Kandang Ternak Program Ketahanan Pangan Desa Banjarkejen Pandaan Kosong, Diduga Pemdes Main Sulap

  • Bagikan
Foto : Kondisi Kantor Balai Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan
banner 468x60

Pasuruan, Fokusberita.co.id – Program ketahanan pangan yang seharusnya menjadi angin segar bagi warga Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, kini justru memicu tanda tanya besar. Sejumlah warga yang mendatangi area kandang ternak desa di Dusun Tondowulan terkejut saat mendapati bangunan tersebut kosong melongpong dan tampak tak terurus.

​Kondisi kandang yang kering dan berdebu menunjukkan sudah lama tidak ada aktivitas peternakan di sana. Warga pun mulai mendesak pemerintah desa (Pemdes) untuk menjelaskan keberadaan hewan ternak berupa sapi dan kambing yang dibeli menggunakan uang negara tersebut.

Example 300x600

​Dugaan adanya penyelewengan semakin menguat setelah beberapa bukti dan kesaksian warga mencuat ke permukaan. Salah satu informasi krusial datang dari FZ, sosok yang diduga terlibat langsung dalam transaksi jual-beli sapi ketahanan pangan tersebut. ​Dalam sebuah percakapan dengan warga, FZ memberikan pengakuan yang mengejutkan.

​”Iya, dua ekor sapi sudah laku terjual. Tapi kemudian digantikan dengan satu ekor sapi anakan (pedet),” ungkap FZ.

​Penelusuran lebih lanjut mengungkap bahwa sapi-sapi milik desa tersebut diduga sengaja dipindahkan keluar wilayah. Bukan lagi antar-desa, melainkan melintasi batas kecamatan hingga ke Dusun Krikilan, Desa Ngembe, Kecamatan Beji.

​Menurut sumber tepercaya yang enggan identitasnya diungkap, pemindahan ini melibatkan lingkaran dekat penguasa desa.

​”Awalnya, RZ (anak Kepala Desa Banjarkejen) bersama FZ membawa dua ekor sapi tersebut untuk diserahkan kepada seorang perawat ternak berinisial KDR,” ujar sumber tersebut.

​Perjalanan sapi-sapi ini pun terbilang dinamis namun mencurigakan:
​Fase Pertama: Dua ekor sapi awal terjual dengan nilai sekitar Rp40 juta. Uang tersebut kemudian dibelikan kembali satu ekor sapi anakan.

​Fase Kedua: Setelah sapi anakan tersebut tumbuh dewasa, hewan itu kembali dijual. Keuntungannya dibagi hasil, lalu dibelikan lagi dua ekor sapi.

​Fase Akhir: Sapi-sapi tersebut akhirnya dijual menjelang Lebaran Iduladha lalu. Sejak saat itu, tidak ada lagi kejelasan fisik hewan ternak di kandang desa.

​Sumber tersebut juga menambahkan bahwa sempat terjadi konflik internal mengenai pembagian keuntungan hasil penjualan sapi ini. Sengketa tersebut bahkan dikabarkan membuat istri Kepala Desa (ibu dari RZ) turun tangan langsung untuk menengahi.

​Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada pihak-pihak terkait masih membentur tembok tebal. Kepala Desa Banjarkejen yang dihubungi melalui pesan singkat hanya memberikan jawaban yang mengambang, tidak jelas, dan berubah-ubah.

​Sikap bungkam juga ditunjukkan oleh beberapa perangkat desa serta jajaran Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Banjarkejen yang kompak tidak memberikan respons sama sekali saat dimintai klarifikasi. (red)

​Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa keberatan, dirugikan, atau ingin meluruskan informasi dalam pemberitaan ini, dipersilakan untuk menggunakan Hak Jawab dan Hak Koreksi sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Pers yang berlaku.

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *