Misteri Mobil Kijang Kapsul Isi BBM di Dua SPBU: Wartawan Diintimidasi dan Dipaksa Serahkan ID Card

  • Bagikan
banner 468x60

Pasuruan, Fokusberita.co.id – Maksud hati melakukan konfirmasi terkait dugaan kejanggalan pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM), Candra, seorang wartawan asal Sidoarjo, justru mengalami dugaan intimidasi saat bertugas di wilayah Kabupaten Pasuruan, Senin (20/7/2026).

​Insiden tersebut bermula saat Candra beristirahat di sebuah SPBU di Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan. Saat itu, ia melihat satu unit mobil Toyota Kijang Kapsul berwarna cokelat tengah mengisi BBM. Awalnya, Candra tidak menaruh curiga pada kendaraan tersebut.

Example 300x600

​Namun, kejanggalan mulai terendus saat Candra melanjutkan perjalanan ke wilayah Kecamatan Purwosari. Di SPBU setempat, ia terkejut karena kembali menemukan mobil Kijang Kapsul bernopol sama yang sebelumnya ia temui di Wonorejo.

​Mencium adanya dugaan praktik pengisian BBM berulang (ngecor), Candra memberanikan diri menghampiri sang pengemudi untuk melakukan konfirmasi. Kepada Candra, sopir tersebut mengklaim bahwa armada yang dikemudikannya adalah milik warga Pasuruan berinisial FRN dan BND.

​”Mobil ini milik FRN dan BND, keduanya warga Pasuruan,” kata Candra menirukan ucapan sang sopir.
​Usai konfirmasi awal tersebut, Candra diajak menyantap makanan di sebuah rumah makan Padang sembari menunggu kehadiran pemilik kendaraan. Tak lama berselang, datang seorang pria yang mengaku sebagai sesama insan pers untuk mendiskusikan persoalan tersebut.

​Komunikasi berlanjut hingga berpindah lokasi ke area depan Mapolsek Purwosari. Suasana yang awalnya mencair mendadak berubah ketika pria tersebut menyodorkan uang tunai sebesar Rp200 ribu kepada Candra, yang saat itu ia terima sebagai pengganti biaya operasional atau uang bensin.

​Namun, sekitar pukul 15.00 WIB, situasi memanas secara drastis. Candra didatangi empat orang yang dalam waktu singkat membengkak menjadi sekitar sepuluh orang. Mereka mengaku dari LPKSM SPR serta gabungan organisasi masyarakat (ormas) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) setempat.

​Sadar ada potensi intervensi dan konflik kepentingan, Candra berinisial mengembalikan uang Rp200 ribu tersebut. Naas, langkah itu justru direspons secara reaktif oleh kelompok massa.

​Candra mengaku dihalangi, dipegangi, hingga dipaksa menyerahkan kartu identitas kewartawanan (ID Card) miliknya untuk difoto di bawah ancaman tekanan fisik maupun verbal.

​”Saya kembalikan uang itu karena situasinya sudah tidak kondusif dan sarat tekanan. Namun, saya justru diintimidasi dan dipaksa menunjukkan ID Card,” tegas Candra.

​Hingga berita ini ditayangkan, sejumlah awak media masih terus berupaya mengonfirmasi pihak-pihak terkait, termasuk aparat penegak hukum setempat dan perwakilan lembaga yang disebutkan, guna mendapatkan keberimbangan informasi. (Tim/red*)

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *